Analisis
Unsur Menarik Dalam Cerpen
Bacalah
cerpen berikut!
Hukuman Manis Buat Arya
oleh: Lestari Danardana
Arya
berdiri di ruang makan. Sebentar-sebentar dia mengintip ke ruang kerja ayahnya.
Di ruang itu tersimpan buku-buku koleksi ayahnya. Ruangan itu dialasi tikar
lampit Kalimantan. Sangat nyaman, Arya dan Astri betah berlama-lama membaca di
situ. Ibu Arya yang seorang guru, juga sering mengoreksi soal-soal ulangan di
situ. Sekarang ini lampu ruangan itu mati. Ayah belum sempat menggantikan dengan
lampu baru.
Arya
mengintip sekali lagi. Namun, ia tak bisa melihat jelas karena ruangan itu agak
gelap. Sore itu tidak ada seorang pun di rumah kecuali Arya. Ayah dan Ibu
mengantar Astri ke dokter gigi. Arya mulai gelisah. Ia ingin sekali masuk ke
ruangan itu. Tiba-tiba dikejutkan oleh dering telepon. Ternyata dari Dani teman
sekelasnya.
“Kalau
kamu tidak bisa melakukannya, berarti kamu ingkar janji. Dasar pegecut!” kata
Dani dengan suara keras.
“Tapi
Dan…” jawab Arya gugup.
Belum
sempat Arya menyelesaikan kalimatnya, telepon sudah ditutup Dani. Arya lalu
berjalan menuju ruang belajar. Besok Ibu akan memberi ulangan matematika. Di
ruang itulah biasanya Ibu mempersiapkan soal-soal ulangan. Perlahan-lahan
dibukanya pintu ruangan itu. Berkas sinar lampu dari ruang makan menerobos
masuk.
“Itu
dia!” gumam Arya gembira. Sebuah buku tergeletak di meja. Tampak ada sehelai
kertas terselip di dalamnya. Arya tahu benar bahwa mengintip soal sebelum
ulangan adalah perbuatan curang. Namun, ejekan Dani terngiang-ngiang di telinganya.
Arya
menarik napas panjang dan berkata pada dirinya sendiri, “Aku bukan pengecut.
Aku harus mengambilnya!”
Dengan
gemetar, diambilnya kertas itu dari bawah meja. Lega rasanya begitu melihat
bahwa kertas itu benar-benar soal ulangan matematika. Rasa takut kembali muncul
di hatinya. “pengecut, pengecut!” mengingat kata-kata Dani itu, Arya menjadi
nekat membawa kertas itu keluar. Secepat kilat ia lari ke ruang keluarga
menelepon Dani.
“Hebat!”
teriak Dani. Arya lalu membacakan soal matematika itu dan Dani mencatatnya.
“Terima
kasih, Arya. Besok kutraktir es krim Mas Doto deh!” seru Dani riang. Arya
tertegun sejenak. Dia lalu lari ke rung belajar dan menyimpannya kembali kertas
soal itu.
Baru
saja Arya hendak menutup pintu ruang belajar, terdengar suara mobil Ayah di
depan rumah. “Hmm, untung udah beres,” gumamnya perlahan.
Keesokan
harinya ulangan matematika berlangsung sesuai jadwal. “Ya ampun, soalnya persis
sekali!” seru Arya dalam hati. Dani berhasil menyelesaikan soal ulangan dalam
waktu dua puluh menit. Ketika ia menyerahkan lembar jawaban, semua anak
memandang keheranan padanya. Arya tersenyum dan Dani membalas dengan
mengedipkan sebelah matanya.
“kau
adalah sahabatku yang paling baik di dunia!” ucap Dani saat mereka menikmati es
krim di bawah pohon. Arya tersipu.
Sore
harinya, saat Arya pulang ke rumah,
“Arya,
Ibu punya kejutan buatmu!” seru Ibu gembira
“Wow, chicken pie!” teriak Arya.
“Makasih, Bu!” seru Arya lagi.
Saat
makan malam tiba, dengan bangga Ibu menceritakan kehebatan anaknya.
“Ayah,
Arya mendapatkan nilai matematika paling tinggi di kelas, lo!” seru Ibu. ‘Wah
hebat! Anak istimewa harus mendapat hadiah istimewa!” timpal Ayah.
“Aku
juga mau kasih Mas Arya hadiah. Tapi rahasia!” ucap Astri, adik Arya.
Arya
menutup mulut dengan tangannya. Alisnya agak terangkat. Ia menjadi salah
tingkah. Ia malu dan merasa sangat bersalah. Arya akhirnya menunduk dan berkata
lirih,
“Maaf
Bu. Saya membaca soal ulangan matematika itu tadi malam,” air mata menggenang
di pelupuk matanya.
Ibu
memeluknya dengan lembut dan berkata, “Hmm, Ibu senang akhirnya kamu mengaku.
Tapi mengapa kau lakukan itu? Ada yang menyuruhmu?” desak Ibu lembut.
“Ti…tidak,
Bu!” sahut Arya cepat, tetap menunduk.
“Memang
serbasalah jadi anak guru, ya?” Ibu
mnyelidik halus.
“Mmm…
sebetulnya kalau aku berani, hal ini tidak akan terjadi, Bu,” jawab Arya
memberanikan diri.
Ibu
tersenyum mendengar jawaban anaknya. “Sebenarnya Ibu curiga sejak tadi malam.
Kau tidak menyelipkan kembali soal matematika itu pada halaman semula,” jelas
Ibu bijak. “Dan Ibu tambah curiga melihat gerak-gerik Dani saat menyerahkan
soal. Tapi sudahlah, kamu kan sudah mengakui kesalahanmu,” ucap Ibu lagi.
“Jadi,
sebetulnya Ibu sudah tahu sejak tadi malam?” Arya keheranan.
Ibu
tersenyum mengangguk.
“Lo…
mengapa Mas Arya tidak langsung dimarahi, Bu?” tanga Astri. Ayah tertawa sambil
mengacak-acak rambut Astri,
“Kamu
tu paling suka kalau Mas Arya di hukum!”
“Menghukum
seseorang itu tidak harus selalu dengan marah-marah!” Ibu menjelaskan.
“Bu,
Arya lebih baik dimarahi habis-habisan daripada diperlakukan baik begini,”
sergah Arya.
“Akh,
kamu! Sudah salah malah nawar-nawar!” sahut Ayah sambil tertawa.
Arya
menghela napasnya. Tiba-tiba Ayah menyeletuk, “Astri, sini chicken pie-nya. Ayah habiskan saja deh!”. Astri dan Ara serentak
lari menuju lemari makan dan berteriak,
“janga
dooongg!” Ayah dan Ibu tertawa melihat tingkah kedua anaknya.
Sumber: (bobo)*
Buku Siswa
Bahasa Indonesia Kelas VIII
Setelah
membaca cerpen di atas, catatlah hal-hal menarik yang berkenaan dengan
unsur-unsur di bawah ini.
|
Unsur cerita
|
Daya tarik
|
|
a.
Tema
|
|
|
b.
Alur
|
|
|
c.
Penokohan
(tokoh-tokoh
dan wataknya)
|
|
|
d.
Latar/setting
|
|
|
e.
Gaya Bahasa
(formal/nonforal)
|
|
|
f.
Amanat
|
|